Avenged Sevenfold Resmi Jadi Band Indie Setelah 26 Tahun di Major Label
Setelah 26 tahun, Avenged Sevenfold resmi jadi band independen usai buyback master The Stage dan Live at the Grammy Museum dari Capitol Records.
Avenged Sevenfold kini jadi band indie. Pada 19 Mei 2026, band metal asal Huntington Beach, California ini mengumumkan lewat media sosial bahwa mereka telah resmi menjadi band independen penuh setelah 26 tahun beroperasi di bawah naungan major label. Bersamaan dengan pengumuman itu, A7X mengonfirmasi telah membeli kembali master rekaman dan hak cipta atas The Stage, The Stage Deluxe Edition, dan Live at the Grammy Museum dari Capitol Records. Sebuah langkah yang, dalam industri musik tahun 2026, terasa seperti perlawanan yang sangat disengaja.
Perjalanan Panjang: Dari Warner Bros ke Capitol, Lalu ke Kebebasan
Untuk memahami kenapa momen ini besar, perlu sedikit mundur ke belakang. A7X mengawali karier mereka dengan Hopeless Records sebelum pindah ke Warner Bros. Records pada pertengahan 2000-an. Hubungan itu tidak selamanya mulus.
Dilansir dari Blabbermouth, M. Shadows pernah bercerita bahwa saat album Hail to the King (2013) rilis, tidak ada seorang pun dari label yang benar-benar peduli dengan band itu. "Everyone's on their phone, and there was just no support," kata Shadows dalam sebuah wawancara. Band kemudian berupaya mendapatkan kembali master mereka atau setidaknya menegosiasikan kontrak yang lebih baik, tapi prosesnya tidak berjalan mudah.
Dari sana, A7X pindah ke Capitol Records dan merilis The Stage pada 2016 tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya, sebuah album yang oleh Metal Injection kemudian disebut sebagai salah satu rilis paling berani dalam sejarah metal modern. Tidak lama setelah itu, persoalan hukum dengan Warner Bros. soal "seven-year clause" mencuat dan A7X menjadi satu-satunya band yang merilis album di tengah proses litigasi dengan label lama mereka.
Setelah perdamaian tercapai di luar pengadilan, A7X kembali ke Warner untuk satu album terakhir, Life Is But a Dream... (2023). Setelah album itu rilis, kontrak mereka dengan Warner pun selesai. Dan sekarang, tidak ada lagi label yang mengatur mereka.
Spotify
Apa yang Dibeli Balik dan Kenapa The Stage Itu Penting
Dalam pernyataan resminya, A7X menyebut tiga hal yang kini sepenuhnya menjadi milik mereka: The Stage, The Stage Deluxe Edition, dan Live at the Grammy Museum. Sebagai bonus yang tidak diumumkan sebelumnya, Deluxe Edition juga kini mencakup Live From Capitol Records Rooftop, empat lagu yang sebelumnya tidak pernah tersedia secara resmi di platform streaming.
The Stage sendiri bukan album biasa. Dirilis pada Oktober 2016 tanpa satu pun bocoran atau teaser, album ini membahas kecerdasan buatan, teori simulasi, kritik sosial, dan eksistensialisme pada saat topik-topik itu belum menjadi bagian dari percakapan mainstream seperti sekarang. Dilansir dari Buzz Music, album ini "aged into relevance rather than out of it," sebuah penilaian yang sulit dibantah mengingat seberapa besar isu AI dan simulasi realitas mendominasi diskusi publik di 2026.
Bagi Deathbats yang sudah lama mengikuti band ini, ada satu hal praktis yang perlu diperhatikan: A7X sendiri memperingatkan bahwa beberapa album mungkin sempat menghilang sementara dari platform streaming selama proses transisi hak berlangsung. Jika itu terjadi, tambahkan kembali ke library atau playlist kalian setelah semuanya beres.
YouTube
Melawan Arus: Saat Semua Orang Menjual, A7X Membeli Balik
Yang membuat pengumuman ini terasa lebih besar dari sekadar urusan administratif satu band adalah konteks industrinya. Dalam beberapa tahun terakhir, tren yang mendominasi industri musik justru bergerak ke arah sebaliknya: artis berlomba-lomba menjual katalog mereka ke perusahaan manajemen musik atau hedge fund dengan harga yang menggiurkan. Bruce Springsteen, Bob Dylan, Neil Young, sampai Justin Bieber semuanya pernah melakukan ini.
A7X tidak. Mereka justru mengeluarkan uang untuk mendapatkan kembali apa yang pernah mereka miliki. Metal Injection mencatat ini sebagai salah satu langkah paling kontras yang bisa dilakukan sebuah band di era ini.
Tentu saja, menjadi independen bukan berarti tanpa tantangan. Distribusi, promosi, dan finansial kini sepenuhnya menjadi tanggung jawab band itu sendiri. Tapi bagi A7X, yang sudah menyaksikan sendiri seperti apa rasanya tidak mendapat dukungan dari label besar, kemerdekaan ini bukan sekadar simbolis. Ini adalah kendali nyata atas musik yang mereka buat, cara mereka merilisnya, dan bagaimana warisan mereka akan dikelola ke depannya.
Di luar buyback ini, A7X juga masih aktif bergerak. Band ini baru saja mengumumkan tur co-headlining bersama Good Charlotte, dan masih merilis musik baru lewat single "Magic" untuk Call of Duty: Black Ops 7. Semuanya kini, untuk pertama kali dalam 26 tahun, tanpa ada label di atas mereka.
Related Posts

The Warning umumkan Everything’s Falling lewat Ritual
The Warning umumkan Everything’s Falling, album kelima yang rilis 28 Agustus 2026, lewat single baru Ritual.
By Bokik Cuomonkeys

Marilyn Manson rilis Exit Wound untuk Chapter 2
Marilyn Manson merilis Exit Wound sebagai single pertama dari One Assassination Under God - Chapter 2 via Nuclear Blast.
By Bokik Cuomonkeys

Tanpa Banyak Pengumuman, Jack White Siapkan Album Barunya “Frozen Charlotte”.
Jack White akan merilis Frozen Charlotte pada 10 Juli 2026 lewat Third Man Records, lengkap dengan single baru Dollar Bill.
By Bokik Cuomonkeys